Sejarah Sekolah

Sejarah Sekolah At Taufiq

A.     Cikal Bakal Islamic Centre At Taufiq

Sekitar tahun 1990-an seorang pengusaha dari daerah Khobar Saudi Arabia “Al Muhtarom Syaikh Muhammad Sa’id Babaydhan  berkunjung ke Indonesia dan tertarik ingin mengembangkan bisnisnya di Indonesia. Beliau berteman dekat dengan dua orang warga negara Indonesia keturunan Timur Tengah yakni Ahmad Badeges dan Ahmad Azzubaydi. Tertarik dengan pangsa pasar yang menjanjikan di Indonesia, maka Syaikh Muhammad Sa’id Babaydhan melalui Ahmad Badeges menginvestasikan sejumlah uangnya untuk berbagai macam bisnis, bantuan sosial dan pembangunan rumah ibadah (masjid). Di tengah perjalanannya terjadilah perselisihan antara syaikh Babaydhan dengan Ahmad Badeges dalam persoalan kerjasama bisnis mereka, Ahmad Azzubaydi berusaha mengislahkan antara keduanya dengan tampil sebagai penengah namun tak lama setelah itu tepatnya pada bulan Juni tahun 1999 Ahmad Az Zubaydi dipanggil Sang Khalik kembali keperistiratahan terakhirnya, kemudian ishlah antara Babaydhan dengan Ahmad Badeges dilanjutkan oleh keluarga almarhum Ahmad Azzubaydi yakni Abdul Qodir Az Zubaydi, Hafizd Ahmad Azzubaydi, Syarief Ahmad Az Zubaydi dan Saidah Ahmad Az Zubaydi.

Pada tahun 2000, Syaikh Babaydhan mengamanahkan kepada keluarga Az Zubaydi untuk membangun lembaga sosial yang bergerak di bidang jasa pendidikan. Pertama kali beliau memerintahkan untuk membangun unit usaha yang nantinya akan menjadi penopang oprasional kegiatan sosial, terutama kegiatan-kegiatan masjid. Maka dibangunlah 4 buah ruko di daerah Ciherang Dermaga, Bogor Barat. Setelah pembangunan ruko selesai maka Syaikh Babaydhan kembali memerintahkan untuk membangun masjid dan lembaga pendidikan. Dalam hal ini beliau meminta membuat dua model sate pland. Pertama berbentuk gambar yang di dalamnya dibangun masjid, lembaga pendidikan (sekolah) bersekala kecil dan bersamaan dengan perumahan, karena memang awal mula dari keinginan beliau adalah berbisnis property. Kedua beliau minta dibuatkan gambar dengan design masjid megah dan lembaga pendidikan berkelas namun terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Setelah melihat kedua site plan tersebut beliau memutuskan untuk mengambil site plan yang kedua.

Tepatnya bulan ….2000, pembangunan masjid dan sekolah At Taufiq dimulai di atas tanah wakaf beliau seluas 8.650 m2. tahun 2002 pembangunan masjid dan sekolah selesai. Juli 2002 TK At Taufiq mulai beroprasi dengan jumlah murid angkatan pertama 20 siswa dengan 3 orang guru pembimbing. Pada tanggal 24 Agustus tahun yang sama lembaga pendidikan ini diresmikan oleh wakil presiden Republik Indonesia, Dr. H. Hamzah Haz atas prakarsa Syeikh Abdullah Baharmus, Ust. Syarief Ahmad Azzubaidi, Lc dan Ust. Abdul Qodir Az Zubaydi.  Setahun kemudian Juli 2003 SD mulai dibuka dengan target siswa angakatan pertama 3 kelas, masing-masing kelas berisi 30 siswa. Subhanallah, animo dan antusias masyarakat demikian tinggi sementara kemampuan At Taufiq masih terbatas, maka banyak orang tua yang kecewa karena tidak bisa memasukkan anaknya di sekolah ini. angkatan pertama hingga angkatan ke-3 SD masih konsisten menerima 3 kelas dengan jumlah siswa secara keseluruhan 90 siswa per angkatan, namun atas desakan yang semakin deras dari orang tua akhirnya tahun 2007, pada angkatan ke-4 At Taufiq mulai membuka empat kelas, namun itupun tidak dapat menampung animo masyarakat yang sangat tinggi sehingga tetap saja masih banyak orang tua murid yang anaknya  tidak bisa bergabung dengan At Taufiq.

Kecintaan masyarakat Bogor dengan sekolah At Taufiq yang dianggap mampu memenuhi harapan mereka baik ilmu keislaman maupun secara nilai akademik melahirkan tuntutan agar At Taufiq segera membuka SMP, maka atas izin Allah  pada 2008 pembangunan gedung SMP dimulai dan pada Juli 2009 SMP sudah beroprasi.

B.     Hambatan dan Rintangan

Islamic Center At Taufiq adalah sebuah lembaga yang yang bergerak di bidang jasa pendidikan. Sejak berdirinya 2002 hingga bulan Februari 2006, lembaga tersebut berada di bawah naungan Yayasan Al-Taufiq Bogor, kemudian pengelolaannya dilanjutkan oleh gabungan Yayasan AtTaufiq dan Yayasan Al Irsyad Al Islamiyyah (YAA) Kota Bogor hingga 2015 dan kemudian diserahkan pengelolaan sepenuhnya kepada Yayasan Islamic Centre At Taufiq Bogor sampai sekarang.

Pada awalnya lembaga pendidikan ini tidak mendapatkan perhatian luas dari masyarakat. Bahkan warga sekitar menyebutnya sebagai lembaga pendidikan yang berpaham wahabi dari Arab Saudi. Namun seiring waktu berjalan, masyarakat mulai terbuka dan menemukan kenyataan bahwa Islamic Centre At Taufiq hadir untuk mencerdaskan kehipan bangsa dan negara sebagaimana amanat UUD 1945. Paham yang diajarkannya pun adalah paham Ahlussunnah Waljama’ah.

Ustaz Syarief Ahmad Azzubaidi, L.c, salah satu funding father lembaga ini menyebutkan bahwa; awalnya Islamic Center At Taufiq menemukan kesulitan yang cukup berat dalam menyebarkan da’wah di lembaga ini. Anggapan masyarakat yang menstigma At Taufiq membawa aliran baru Wahabi adalah hambatan utamanya. Namun kepiawaian beliau bersama pendiri lainnya merangkul para tokoh masyarakat seperti ketua MUI kota Bogor, para Kiyai, para Asatiz dan tokoh-tokoh dari unsur pemerintahan yang berpengaruh sangat efektif dalam membantu memperkenalkan lembaga ini sebagai salah satu wasilah da’wah yang berpaham Ahlussunnah wal’jama’ah. Alhamdulillah At Taufiq bisa diterima di semua kalangan baik NU, Muhammadiyah, Persis, Tarbiyah, dan lainnya.

Perjalanan Islamic Center At Taufiq menjadi lembaga seperti sekarang tidaklah terlepas dari berbagai hambatan dan rintangan, fitnahan, demarketisasi,  dan berbagai gangguan datang silih berganti. Diantara fitnah yang pernah singgah adalah dituduhnya Syeikh Abdullah Baharmus dan Ustaz Syarief Ahmad Azzubaidy, Lc, selaku tokoh central At Taufq, melakukan penggelapan dana pembangunan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya mereka sempat dibenci oleh Syeikh Ahmad Babaidhan selaku pewakif tunggal. Kesabaran mereka berdua menghadapi berbagai fitnah dan kezaliman tersebut telah membuat pewakif tunggal menemukan jawaban bahwa yang telah mengkhianati beliau sebenarnya adalah mereka yang selama ini menggunting dalam lipatan dengan melakukkan berbagai fitnah yang tidak berdasar. Akhirnya pewakif sadar bahwa mereka inilah yang benar-benar amanah dan dapat dipercaya untu terus memegang tanggung jawab hingga mereka dijemput oleh kematian kelak di kemudian hari.